h1

Kesuksesan

November 25, 2015

All the hardship and all the criticizm that you face

is making you a better rider and a better person.

So don’t quit now before you learn that

no matter  you do or where you go.

Success isn’t about winning. It’s about staying in the game.

Not quitting or letting someone make you quit

(taken from Awkward, episode 20 in Season 3)

Beberapa hari ini di grup beasiswa angkatan saya saling curhat mengenai kehidupan kampusnya. Inti dari curhatannya adalah merasa kesulitan dengan tugas-tugas kuliahnya terutama membuat essay. Kesulitan membuat essay ini sebenarnya bukan karena perbedaan bahasa walaupun ada pengaruhnya tetapi lebih karena perubahan budaya dalam belajar. Kesulitan menggunakan bahasa yang bukan merupakan bahasa ibu masih dapat dipahami dan banyak solusi yang bisa digunakan seperti menggunakan situs gratis pengecekan essay di dunia maya. Namun mengatasi gap budaya belajar ini membutuhkan  usaha yang lebih dari “biasa” dan waktu yang tidak sebentar.

Banyak hal yang membedakan sistem pendidikan di Indonesia sampai sekarang yang saya alami dengan sistem pendidikan di lain negeri. Salah satunya adalah di Indonesia saya lebih dituntut untuk  menghafal banyak hal tanpa mengetahui apa tujuan dan fungsi dari yang saya hafalkan. Contohnya adalah ada salah seorang dosen saya yang akan memberikan nilai yang bagus di ujian jika jawaban kita-kata per kata-semirip mungkin dengan teori yang diajarkan. Jadi saat itu saya dan teman-teman hanya belajar untuk  menghafal yang ini baru menjawab satu tujuan belajar yaitu apa (what). Padahal masih ada tujuan dari kita belajar yaitu menjawab pertanyaan why and how. Jujur saya tidak menyukai menghafal. Saya lebih tertarik pada membangun konsep dan logika berpikir.

Pernahkah Anda melihat anak seusia 5 tahunan bertanya pada ustadz di pengajian umum orang dewasa di Indonesia ?  Well saya melihatnya di sini, tepatnya di masjid York. Yup setiap jumat malam ada halaqoh rutin di York mosque dan ini melibatkan orang dewasa dan anak-anak. Beberapa anak ada yang percaya diri mengajukan pertanyaan pada syeikh di sini. Beberapa pertanyaan sederhana sesuai imajinasi anak-anak dan beberapa pertanyaan cukup mengejutkan untuk ditanyakan bukan oleh orang dewasa. Menariknya, semua jenis pertanyaan itu sangat dihargai oleh syeikh dan tetap dijawab dengan serius. Ya tentu saja ada sedikit humor untuk menjawab kepada anak-anak.   Saat saya melihat hal ini, saya berpikir pasti ada hal yang istimewa di balik hal itu terutama mengenai sistem pendidikan mereka.

Kemudian bagaimana dengan kehidupan belajar di kampus saya ?  Di jurusan saya, latar belakang mahasiswa beragam. Ada mahasiswa tuan rumah (UK maksudnya), Turki, Kolombia (negara di South America), negara ASEAN (Indonesia dan Thailand), Korea Selatan serta yang proporsinya terbesar dari China. Well, saya bilang beragam karena dibandingkan dengan beberapa teman di kampus lain merasa bahwa mereka seperti bukan kuliah di Eropa karena hampir 90 % berasal dari China. Seperti halnya kisah anak di masjid di atas, di kelas saya yang bisa dibilang aktif untuk berdiskusi adalah mahasiswa dari Eropa yaitu UK dan Turki. Mereka tidak segan untuk bertanya dan kadang mendebat dosen. Dosen-pun sangat menghargai pendapat dan pertanyaan dari mahasiswanya.

Saya mendapatkan jawaban mengenai apa sebenarnya yang diharapkan sistem pendidikan mereka terhadap siswa-siswannya di kelas academic writing. Kelas ini adalah kelas tambahan untuk semua International Students di jurusan saya. Pengajar di kelas ini menjelaskan bahwa tujuan dari pengajaran mereka adalah membangun critical thinking. Bah, makanan apa pula itu ? Yang saya pahami, berpikir kritis itu adalah berpikir dengan menggunakan logika rasional. Kita bebas mengeluarkan pendapat entah itu mendukung atau mendebat pendapat orang lain asalkan ada alasan pendukungnya. Dosen akan melihat pendapat kita bukan karena pendapat kita sesuai dengan teori yang ada atau tidak tetapi menguji bukti pendukung dibalik pendapat kita. Apakah alasan kita kuat dan valid untuk diterima. Berpikir kritis ini bukan hal yang bisa kita hafalkan dan pelajari teorinya saja tetapi harus kita biasakan untuk dipraktekkan dalam kehidupan kita.

Lalu apa hubungannya cerita sistem pendidikan dengan judul posting ini serta curhatan teman-teman termasuk saya terkait essay di atas ? (ini bentuk pertanyaan critical thinking. hehe) Benang merahnya adalah bahwa apapun kesulitan yang kita alami saat ini teman, saat kuliah di luar negeri, tetap ingat bahwa sukses itu bukan soal mendapatkan nilai essay yang tinggi tetapi soal bagaimana kita tetap bertahan di kuliah kita dengan memberikan segala kemampuan terbaik dari kita. Nilai essay yang tinggi hanyalah soal waktu saja untuk menunggunya dan kita paham ada gap perbedaan budaya belajar di baliknya. At least, kita juga belajar mengenai bagaimana menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan kemampuan logika berpikir kita dan kita tahu bahwa akal adalah yang membuat kita menjadi makhluk sempurna dan membedakannya dari makhluk lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: