h1

Percaya

November 23, 2015

Salah satu resep dalam kehidupan saya adalah believe. Kekuatan percaya ini jugalah yang membuat one of my dream comes true. Yup, bisa kuliah di luar negeri adalah salah satu impian saya. Alhamdulillah, impian ini sekarang sedang saya jalani. Beberapa teman ada yang menanyakan apa resepnya untuk mewujudkannya. Selain belajar dan hal-hal mendasar dalam meraih beasiswa yang akan dengan mudah kita ketahui melalui google, mulailah impian itu dengan percaya.

Sejak saya lulus Diploma IV dan saya ditempatkan kembali untuk bekerja, saya bilang ke rekan kantor saya termasuk atasan saya bahwa saya akan berjuang untuk melanjutkan kuliah ke Luar Negeri. Over confidence ? Ya mungkin saja karena banyak hal dalam diri saya saat itu yang bisa menjadi sebab Anda meragukan impian saya tercapai. Tapi saya tetap “percaya” saya bisa menggapainya. Yang jelas saya sudah bilang ke semua orang tentang keinginan saya, jadi saya akan sangat malu kalau tidak memperjuangkannya.

Salah satu alasan impian saya diragukan keberhasilannya adalah karena kemampuan bahasa inggris saya. Kemampuan berbahasa asing sepertinya menjadi barrier yang umum dihadapi pemimpi beasiswa ke luar negeri. Track records saya dalam bahasa inggris bisa  dibilang jauh di bawah level “cukup”. Sejak SMP, jujur saya tidak menyukai pelajaran bahasa inggris. Nilai Ebtanas (sekarang UN) saya baik di SMP ataupun SMU untuk subject ini 6 dan ini jauh di bawah rata-rata teman-teman saya yang bisa dengan mudahnya mendapatkan nilai 8 atau 9. Saya tidak sendirian dengan track record seperti ini karena banyak orang lain yang bisa kuliah di luar negeri-pun diawali dengan kemampuan bahasa inggris yang seadanya. Pak Rhenald Kasali contohnya, guru besar UI dimana ia berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat dengan IP dua koma, dan bahasa Inggris yang sangat minim. Contoh lain adalah Pak Yohanes Surya yang juga sukses mendapatkan beasiswa ke Amerika, padahal waktu itu TOEFL-nya hanya 425.

Memiliki sikap percaya tidak datang tiba-tiba dalam hidup kita dan kadang tidak mudah. Tidak heran, setiap motivator pasti memasukkan unsur tentang pentingnya membangun kepercayaan diri di setiap sesi mentoringnya. Tapi buat saya cukup ibu saya yang membangun kepercayaan diri saya. Sejak kecil, Ibu selalu mengajari anak-anaknya dengan mempercayai bahwa kami bisa melakukan apapun yang kita mau termasuk kuliah di luar negeri. Analogi yang sering beliau gunakan adalah “Kalau orang lain bisa melakukannya, kenapa kamu tidak bisa. Kamu dan mereka sama-sama makan nasi sama tempe. Kalau mereka bisa kuliah ke luar negeri, kamu pasti bisa.”  Analogi ini masih saya gunakan sampai saat ini terutama saat saya merasa saya tidak mampu melakukan aktivitas tertentu.

Soal membangun kepercayaan diri ini juga saya pelajari saat saya Diklat persiapan untuk kuliah ke luar negeri. Selain belajar bahasa inggris dan semacamnya, saya juga mendapatkan pelajaran yang penting dari guru-guru kami saat itu yaitu bahwa mereka percaya bahwa kami semua bisa mendapatkan nilai yang tinggi di TOEFL IBT dan IELTS sehingga diterima di kampus luar negeri yang kami inginkan. Ini sangat penting buat saya. Saat diklat tersebut, nilai TOEFL PBT sebagai modal saya di diklat adalah terendah di antara angkatan saya. Yup 455 -hasil seleksi toefl tertulis- sudah cukup bagi saya mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri. Saat itu saya tahu bahwa saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan dari rekan-rekan yang lain. Tapi yang terpenting saya percaya saya berada di tangan yang tepat -para guru yang expert– yang mereka percaya bahwa saya bisa.

Dan sekarang saya sudah berada di kota York, United Kingdom untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya yang diawali dari saya percaya saya bisa. Yes, We Can.

SPIRIT Batch VI.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: